Selasa, 02 September 2014

Yang Salah Memaknai Cinta



Seperti biasa kau mendatangiku di tengah malam buta, di saat lambung sebagian manusia menindih kasur empuk, atau meringkik di bawah hangatnya selimut. Sambil megap-megap menahan kantuk, kau melemparkan ember kecil ke dasar mulutku dengan terhuyung-huyung seperti orang mabuk kau kembali masuk ke dalan rumahmu. Ya. Aku mengerti. Pasti kau teramat takut pergelangan tangan hingga sikumu terbuka bukan? Atau menarik ke belakang sedikit kerudungmu untuk menyapu sebagian rambutmu.
            Sungguh kekawatiran yang sangat terpuji. Di tengah malam buta seperti ini kau masih mengkawatirkan auratmu terlihat oleh ajnabi. Duh, Shalehah. Aku yakin Malaikat Raqib sangat iri kepada Malaikat Atid yang selalu menganggur. Dan aku pun kelak bersedia bersaksi di hadapan Tuhan bahwa kau senantiasa terjaga di sepertiga malam untuk menemui-Nya.
            Dan pagi ini aku teramat puas menatap wajahmu yang menatap ke arahku. Hey. Apakah kau bisa merasakan aku sedari tadi memandangi wajahmu yang kusut masai tak bersemangat itu? Aku sungguh tidak menyukai gaya tak berdayamu pagi ini! Kau kenapa? Seolah mendengar pertanyaan yang kulempar ke wajahmu, kau pun beranjak dan terlihat kembali dengan jaket tebal yang bertulisan Save Palestine  tertutup ransel di pundakmu. Kau mau kemana? Munasyarah lagi!
                                                                                    *****
            Sepuluh hari sudah berlalu, kau di mana sholehah? Aku merindukanmu. Aku yakin bukan hanya aku yang memiliki perasaan sentimentil itu, tapi ibu dan adik-adikmu pun aku yakin memiliki rasa yang sama.
            Eh. Tunggu dulu, ada dua wanita yang datang mendekat ke arahku. Dari cara berpakaian mereka yang khas seperti orang arab bisa kutebak mereka sahabatmu. Benar saja, mereka mendekat ke pintu rumahmu. Satu di antaranya lama menatapku heran, aku yang seharusnya ada di bagian belakang rumah tapi malah sebaliknya!
            “Assalamu’alaikum …” salah satu dari mereka mengucapkan salam
            Tak lama ibumu keluar dan menjawab salam, aku menyaksikan mereka sangat takzim mengecup hangat punggung tangan ibumu. Kau dan sahabatmu benar-benar santun Shalehah!
            “Bu, sudah lebih satu minggu Laysa ada di kost kami,”
            Samar-samar kudengar kabar tentangmu.
            “Laysa sering bertingkah aneh, Bu ...” tambah wanita berjilbab abu-abu  dengan sedikit gugup, “Tengah malam Laysa tidak pernah tidur, Bu. Kadang Laysa menangis, bernyanyi, bercerita dan tertawa sendiri!” lanjutnya lagi.
            Aku tau ibumu pasti shock mendengarnya Shalehah! Sebab aku pun merasakannya.
            “Apa Laysa pernah bercerita sesuatu, Bu?” timpal wanita berkerudung putih dengan sorot mata yang sudah berkaca-kaca. “Atau Laysa ada masalah?”
            “Memang, belakangan ini Laysa sedikit berbeda. Dia sering terlihat termenung, dan menangis di tengah malam!”
            Ada rasa sesak di hati ibumu yang kutemukan dari sorot matanya.
            “Terakhir dia bercerita ke Ibu katanya dia ingin menikah, dia sudah memiliki pilihan dan begitu yakin pria yang ia maksud pun memiliki perasaan yang sama!”
            Lama kudengar mereka hanya terdiam, mungkin sedang larut dalam pikir masing-masing.
            Sambut menyambut azan Ashar berkumandang mengalun indah dari toa masjid. Kulihat kedua wanita itu berpamitan merangkul erat tubuh ibumu, seraya bergantian menyalami dan mengecup punggung tangan ibumu penuh takzim.
            “Bu, jika boleh, datang dan jemputlah Laysa ke kostan kami, bukan apa-apa, mungkin dengan ibu Laysa bisa lebih baik.” Ucapnya lembut, sedang tangannya masih menggenggam jemari ibumu.
            Mata teduhnya berkaca-kaca.
            Assalamu’alaikum …”
            Wa’alaikumussalam.” Balas ibumu dan memandang kedua wanita berjilbab itu hingga hilang di mulut gang.
*****
Apa! Aku sungguh tidak percaya, Shalehah. Di mana keikhlasanmu? Aku percaya kau gadis baik, kau juga cantik, kau juga taat pada Allah sebab itu kunamai kau ‘Shalihah’. Apakah mungkin cintamu pada pria yang kau idamkan itu telah melebihi cintamu pada-Nya? Ah. Sungguh aku pun sangat menyesali keadaamu saat ini.
Kau hampir kehilangan kewarasanmu disebabkan lelaki yang kau idamkan akan menikah dengan wanita lain! Kau salah memaknai cinta Shalehah! Cinta itu ikhlas. Ikhlas menerima dan melepaskan. Berbahagia ketika orang yang kau cinta merasakan bahagia. Aku yakin kau tidak menyintainya dengan ikhlas tapi kau menyintainya dengan nafsu yang semakin liar membodohimu. Dan dengan itu setan semakin bersorak menyinggahi jasadmu!
Shalehah! Aku teramat yakin akan ada seorang pria baik dan shaleh kelak akan membawamu terbang bersama hembusan nafas bidadari. Berjalan beriringan meneguk manisnya iman, mencinta dan dicintai dengan insan pilihan Tuhan. Bukan yang kau anggap baik dimatamu!
*****
            Hampi satu bulan kau hanya termenung di pintu rumahmu. Para tetangga kerap sekali membicarakan kebodohanmu yang ‘gila karna lelaki’. Ah. Sungguh  miris hatiku memandang wajahmu yang selalu bermuram durja. Kau tak lagi pernah menemuiku di tengah malam buta seperti biasa, aku pun tidak lagi pernah mendengarmu mengulangi hapalan ayat-ayat Allah yang selalu kau bacakan bersamaan dengan buih-buih sabun colek di sisiku.
            Aku rindu Shalehah. Aku benar-benar rindu!
            Tapi, apa yang harus kulakukan? sedang aku hanyalah sebuah sumur tua yang ada di depan rumahmu. Tubuhku mulai gerah sebab lumut-lumut licin itu mulai bertengger sesukanya di tubuhku.

                                                                                                            Kolong Langit. 29 Mei 2014
Untuk seseorang, semoga senantiasa diberi kesehatan dan kesabaran. Semoga Allah pertemukanmu dengan yang lebih baik.
Dan untuk shahibah Akhwat, hati-hati dalam mencinta. Cintai sesuatu itu dengan sederhana dan karena Allah. Sebab hanya Allah lah pemilik kuasa akan hati.
Salam Ukhwah …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar