Seperti biasa kau mendatangiku di tengah
malam buta, di saat lambung sebagian manusia menindih kasur empuk, atau
meringkik di bawah hangatnya selimut. Sambil megap-megap menahan kantuk, kau
melemparkan ember kecil ke dasar mulutku dengan terhuyung-huyung seperti orang
mabuk kau kembali masuk ke dalan rumahmu. Ya. Aku mengerti. Pasti kau teramat
takut pergelangan tangan hingga sikumu terbuka bukan? Atau menarik ke belakang
sedikit kerudungmu untuk menyapu sebagian rambutmu.
Sungguh
kekawatiran yang sangat terpuji. Di tengah malam buta seperti ini kau masih
mengkawatirkan auratmu terlihat oleh ajnabi. Duh, Shalehah. Aku yakin Malaikat
Raqib sangat iri kepada Malaikat Atid yang selalu menganggur. Dan aku pun kelak
bersedia bersaksi di hadapan Tuhan bahwa kau senantiasa terjaga di sepertiga
malam untuk menemui-Nya.
Dan
pagi ini aku teramat puas menatap wajahmu yang menatap ke arahku. Hey. Apakah
kau bisa merasakan aku sedari tadi memandangi wajahmu yang kusut masai tak
bersemangat itu? Aku sungguh tidak menyukai gaya tak berdayamu pagi ini! Kau
kenapa? Seolah mendengar pertanyaan yang kulempar ke wajahmu, kau pun beranjak
dan terlihat kembali dengan jaket tebal yang bertulisan Save Palestine tertutup ransel di pundakmu. Kau mau kemana? Munasyarah
lagi!
*****
Sepuluh
hari sudah berlalu, kau di mana sholehah? Aku merindukanmu. Aku yakin bukan
hanya aku yang memiliki perasaan sentimentil itu, tapi ibu dan adik-adikmu pun
aku yakin memiliki rasa yang sama.
Eh.
Tunggu dulu, ada dua wanita yang datang mendekat ke arahku. Dari cara
berpakaian mereka yang khas seperti orang arab bisa kutebak mereka sahabatmu.
Benar saja, mereka mendekat ke pintu rumahmu. Satu di antaranya lama menatapku heran,
aku yang seharusnya ada di bagian belakang rumah tapi malah sebaliknya!
“Assalamu’alaikum
…” salah satu dari mereka mengucapkan salam
Tak
lama ibumu keluar dan menjawab salam, aku menyaksikan mereka sangat takzim
mengecup hangat punggung tangan ibumu. Kau dan sahabatmu benar-benar santun Shalehah!
“Bu,
sudah lebih satu minggu Laysa ada di kost kami,”
Samar-samar
kudengar kabar tentangmu.
“Laysa
sering bertingkah aneh, Bu ...” tambah wanita berjilbab abu-abu dengan sedikit gugup, “Tengah malam Laysa
tidak pernah tidur, Bu. Kadang Laysa menangis, bernyanyi, bercerita dan tertawa
sendiri!” lanjutnya lagi.
Aku
tau ibumu pasti shock mendengarnya Shalehah! Sebab aku pun merasakannya.
“Apa
Laysa pernah bercerita sesuatu, Bu?” timpal wanita berkerudung putih dengan
sorot mata yang sudah berkaca-kaca. “Atau Laysa ada masalah?”
“Memang,
belakangan ini Laysa sedikit berbeda. Dia sering terlihat termenung, dan
menangis di tengah malam!”
Ada
rasa sesak di hati ibumu yang kutemukan dari sorot matanya.
“Terakhir
dia bercerita ke Ibu katanya dia ingin menikah, dia sudah memiliki pilihan dan
begitu yakin pria yang ia maksud pun memiliki perasaan yang sama!”
Lama
kudengar mereka hanya terdiam, mungkin sedang larut dalam pikir masing-masing.
Sambut
menyambut azan Ashar berkumandang mengalun indah dari toa masjid. Kulihat kedua
wanita itu berpamitan merangkul erat tubuh ibumu, seraya bergantian menyalami
dan mengecup punggung tangan ibumu penuh takzim.
“Bu,
jika boleh, datang dan jemputlah Laysa ke kostan kami, bukan apa-apa, mungkin
dengan ibu Laysa bisa lebih baik.” Ucapnya lembut, sedang tangannya masih
menggenggam jemari ibumu.
Mata
teduhnya berkaca-kaca.
“Assalamu’alaikum …”
“Wa’alaikumussalam.” Balas ibumu dan
memandang kedua wanita berjilbab itu hingga hilang di mulut gang.
*****
Apa! Aku sungguh tidak
percaya, Shalehah. Di mana keikhlasanmu? Aku percaya kau gadis baik, kau juga
cantik, kau juga taat pada Allah sebab itu kunamai kau ‘Shalihah’. Apakah
mungkin cintamu pada pria yang kau idamkan itu telah melebihi cintamu pada-Nya?
Ah. Sungguh aku pun sangat menyesali keadaamu saat ini.
Kau hampir kehilangan
kewarasanmu disebabkan lelaki yang kau idamkan akan menikah dengan wanita lain!
Kau salah memaknai cinta Shalehah! Cinta itu ikhlas. Ikhlas menerima dan
melepaskan. Berbahagia ketika orang yang kau cinta merasakan bahagia. Aku yakin
kau tidak menyintainya dengan ikhlas tapi kau menyintainya dengan nafsu yang
semakin liar membodohimu. Dan dengan itu setan semakin bersorak menyinggahi
jasadmu!
Shalehah! Aku teramat
yakin akan ada seorang pria baik dan shaleh kelak akan membawamu terbang
bersama hembusan nafas bidadari. Berjalan beriringan meneguk manisnya iman,
mencinta dan dicintai dengan insan pilihan Tuhan. Bukan yang kau anggap baik
dimatamu!
*****
Hampi
satu bulan kau hanya termenung di pintu rumahmu. Para tetangga kerap sekali
membicarakan kebodohanmu yang ‘gila karna lelaki’. Ah. Sungguh miris hatiku memandang wajahmu yang selalu
bermuram durja. Kau tak lagi pernah menemuiku di tengah malam buta seperti
biasa, aku pun tidak lagi pernah mendengarmu mengulangi hapalan ayat-ayat Allah
yang selalu kau bacakan bersamaan dengan buih-buih sabun colek di sisiku.
Aku
rindu Shalehah. Aku benar-benar rindu!
Tapi,
apa yang harus kulakukan? sedang aku hanyalah sebuah sumur tua yang ada di depan
rumahmu. Tubuhku mulai gerah sebab lumut-lumut licin itu mulai bertengger
sesukanya di tubuhku.
Kolong
Langit. 29 Mei 2014
Untuk seseorang, semoga senantiasa
diberi kesehatan dan kesabaran. Semoga Allah pertemukanmu dengan yang lebih
baik.
Dan untuk shahibah Akhwat, hati-hati
dalam mencinta. Cintai sesuatu itu dengan sederhana dan karena Allah. Sebab
hanya Allah lah pemilik kuasa akan hati.
Salam Ukhwah …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar