Selasa, 02 September 2014

Bukan Cinta Benalu




Bagiku mencintai adalah suatu proses memahami dan merelakan. Mungkin teramat sederhana untuk pengungkapan makna cinta. Sebab cinta bagiku adalah kesetiaan, yang berarti menyertai selamanya. Lalu apakah harus memiliki?, bagiku tidak perlu, sebab cukup dengan merasakan cinta, maka cinta pun hadir. Cinta adalah awan  yang mengembara bebas  singgah semaunya di mana saja.’
Selayaknya bunga diantara dedaunan yang mekar dan bersemi. Akupun tak perlu  memilikinya untuk dapat mengungkapkan perasaan cinta, atau mencabutnya untuk kumiliki sendiri. Untuk apa?. Jika …, nantinya bunga itu pun menjadi layu, berpisah dengan kesegaran dedaunan. Terenggut dari perasaan nyaman, lalu sesudah itu aku pun paling-paling membuangnya. Membuangnya? Ah, aku tidak akan pernah mau melakukannya. Cukuplah cinta untuk cinta. Ya. Hanya cinta yang akan mencintai cinta. Seperti cintaku saat ini kepada yang Maha Cinta.
Wajahku menengadah kelangit-langit kamar. Ujung pena yang sejak tadi menari lincah tergeletak diantara jemariku. Perlahan aku bangkit membuka jendela kamar yang masih ditutupi korden ungu kesayanganku. Wajahku tenggelam diantara bintang di langit, desir angin pada pucuk kelapa terdengar merdu menelisik hatiku.
Mataku mengerjap. Seketika bulir bening mengairi rona wajahku yang terkenai sinar rembulan. Mataku masih mengatup. Namun hatiku tetap saja bercengkrama dengan keagungan cinta yang saat ini telah memenuhi rongga dadaku walau sebelumnya hancur berkeping di sebabkan cinta buta yang bermuara di hatiku.
Terima kasih Allah ..., terima kasih, atas cinta-Mu yang maha suci.” Bibirku mengalunkan tahmid membersamai bulir bening yang mulai menganak sungai.
*****
“Dayat, pria shaleh yang kukenali beberapa bulan yang lalu, Fat,” aku mulai membuka cerita, “Dia yang selalu membangunkanku untuk tahajud! mengingatkan untuk salat dhuha. mengajak puasa sunah senin kamis. Dia juga yang sering memberi nasehati ketika aku dirundung masalah, Fat.” Lanjutku dengan kesan amarah dan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Terus?” tanya Fatma dengan nada lembut, manggut-manggut. “Apa itu yang membuatmu jatuh cinta padanya?” terka Fat.
Darahku berdesir. Sejenak aku terdiam memunguti kata-kata yang kurasa sangat malu untuk kuungkap.
“Apa aku salah jika mencintainya, Fat? Cinta yang hadir sebab keshalihannya?” Suaraku tercekat. Parau.
“Sejak kapan ini berlangsung? Selidik Fatma tetap dengan nada semula, seraya mengelus lembut punggungku yang ditutupi kerudung.
“Sejak ia tak pernah lagi membangunkanku untuk bertahajud, Fat. Sejak ia tak lagi mengingatkan untuk salat Dhuha dan puasa senin kamis. Sejak ia menghilang dan tak kutau saat ini keberadaannya.” Aku pun terisak. Air mata kerinduan mengalir hangat di pipiku.
“Tidak ada yang salah dengan cinta, Asma.” bisik Fat lembut di telingaku. “Cintamu padanya hanya sebatas kekaguman saja, cinta semu layaknya benalu yang singgah mengakar dan merusak batang pohon.” Lanjut  Fat tegas.
“Maksudmu!” Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi bersandar di bahu sahabatku itu. Aku merasa terusik dengan kata-kata yang ia ucapkan. Tega sekali!
“Ya. Itu hanya cinta benalu yang tidak akan pernah tumbuh menjadi besar. Rasa yang akan segera pudar oleh waktu. Namun akan merusak jika kamu merawatnya.”
Kami berdua saling diam. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang disampaikan olehnya.
“Asma, sejatinya cinta itu hanya milik Allah dan untuk Allah, ibadah yang selama ini kamu laksanakan tidak lain agar kamu dianggap baik di hadapannya. Namun apakah tersirat di hatimu bagaimana Allah memandangmu yang sedang rajin beribadah namun bukan untuk Allah akan tetapi agar dipandang indah oleh seorang manusia? Lagi pula, saleh di hadapan manusia belum tentu di hadapan Allah.”
Deg!aku tersentak. Sungguh suatu kenyataan yang tak mungkin bisa kuelakkan, mulutku bungkam walau hanya untuk memberi alasan.
“Bersyukurlah, Asma. Bersyukurlah pada Allah. Sebab Allah sedang menegur dan menagih cintaNya padamu. Mengingatkanmu akan kesejatian cinta.” Ucap Fat meyakinkanku. “Insya Allah, kelak akan ada yang akan meminangmu dan menyuntingmu untuk beribadah pada Allah. Membersamaimu untuk mengabadikan cinta. Cinta karena Allah tentunya.” ujar Fat.
Lekat-lekat ia pandangi wajahku dan mengusap lembut sisa air mata di ujung kelopak mataku. “Jika benar ia jodohmu, kelak Allah akan pertemukanmu dengannya dengan cinta yang sebenarnya bukan cinta benalu.”
Nasihat Fat seperti salju yang mengairi hatiku, memadamkan api amarah yang sempat memercik di hatiku. Seketika kurengkuh Fat dalam dekapanku.
“Terima kasih, Fat...” bisikku lembut di telinganya.
*****
Mataku masih mengerjap. Sedang hatiku masih terbang kemasa lalu. Masa yang telah mempertemukanku dengan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang terjalin antara seorang hamba dan penguasa. Juga yang menguasai hatiku.
“Asma, mengapa jendelanya di buka, sayang? Nanti masuk angin. Besok pagi akad nikahmu dengan Abdillah akan dilaksanakan, istirahat ya.” Ucap ibu seraya menutup jendela beserta kordennya, menutup pintu kamar dan meninggalkan senyuman untukku yang masih mematung.
“Allah …,” mataku kembali mengerjap. Buliran bening itu tak bisa kutahan. Penaku kembali menyusurui lembaran putih di hadapanku.
Angin membawaku terbang bersama napas bidadari, menitah mahkota di tahta jiwa. Lalu bersama kesegaran musim semi, kau membawaku terbang mengantar simpul setia dan kepasrahan kepada kata-kata, menitis raja di antara samudera menjelma permaisuri kefakiran asa. Menjadilah cinta selalu. Terbanglah untuk menyunting mekar cinta.

Nb. Beberapa bagian diambil dari sumber (Majalah Annida)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar