‘Bagiku
mencintai adalah suatu proses memahami dan merelakan. Mungkin teramat sederhana
untuk pengungkapan makna cinta. Sebab cinta bagiku adalah kesetiaan, yang
berarti menyertai selamanya. Lalu apakah harus memiliki?, bagiku tidak perlu,
sebab cukup dengan merasakan cinta, maka cinta pun hadir. Cinta adalah awan yang mengembara bebas singgah semaunya di mana saja.’
‘Selayaknya
bunga diantara dedaunan yang mekar dan bersemi. Akupun tak perlu memilikinya untuk dapat mengungkapkan perasaan
cinta, atau mencabutnya untuk kumiliki sendiri. Untuk apa?. Jika …,
nantinya bunga itu pun menjadi layu, berpisah dengan kesegaran dedaunan.
Terenggut dari perasaan nyaman, lalu sesudah itu aku pun paling-paling
membuangnya. Membuangnya? Ah, aku tidak akan pernah mau melakukannya. Cukuplah
cinta untuk cinta. Ya. Hanya cinta yang akan mencintai cinta. Seperti cintaku saat
ini kepada yang Maha Cinta.’
Wajahku
menengadah kelangit-langit kamar. Ujung pena yang sejak tadi menari lincah
tergeletak diantara jemariku. Perlahan aku bangkit membuka jendela kamar yang
masih ditutupi korden
ungu kesayanganku. Wajahku tenggelam diantara bintang di langit,
desir angin pada pucuk kelapa terdengar merdu menelisik hatiku.
Mataku mengerjap. Seketika bulir bening
mengairi rona wajahku yang terkenai sinar rembulan. Mataku masih mengatup.
Namun hatiku tetap saja bercengkrama dengan keagungan cinta yang saat ini telah
memenuhi rongga dadaku walau sebelumnya hancur berkeping di sebabkan cinta buta
yang bermuara di hatiku.
“Terima kasih Allah ..., terima kasih, atas cinta-Mu yang maha suci.” Bibirku
mengalunkan tahmid membersamai bulir bening yang mulai menganak sungai.
*****
“Dayat, pria shaleh yang kukenali beberapa bulan yang lalu,
Fat,” aku
mulai membuka cerita, “Dia
yang selalu membangunkanku untuk tahajud! mengingatkan untuk salat dhuha. mengajak puasa sunah senin kamis.
Dia juga yang sering memberi nasehati ketika aku
dirundung masalah, Fat.” Lanjutku dengan kesan amarah dan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Terus?”
tanya Fatma dengan
nada lembut, manggut-manggut. “Apa itu yang membuatmu jatuh cinta padanya?” terka Fat.
Darahku berdesir. Sejenak
aku terdiam memunguti kata-kata yang kurasa sangat malu untuk kuungkap.
“Apa
aku salah jika mencintainya,
Fat? Cinta
yang hadir sebab keshalihannya?” Suaraku tercekat. Parau.
“Sejak
kapan ini berlangsung?”
Selidik Fatma tetap dengan nada semula, seraya mengelus lembut punggungku yang
ditutupi kerudung.
“Sejak
ia tak pernah lagi membangunkanku untuk bertahajud, Fat. Sejak ia tak lagi
mengingatkan untuk salat Dhuha dan puasa senin kamis. Sejak ia menghilang dan
tak kutau saat ini keberadaannya.” Aku pun terisak. Air mata kerinduan mengalir
hangat di pipiku.
“Tidak
ada yang salah dengan cinta,
Asma.” bisik Fat lembut di telingaku.
“Cintamu padanya hanya sebatas kekaguman saja, cinta semu layaknya benalu yang
singgah mengakar dan merusak batang pohon.” Lanjut Fat tegas.
“Maksudmu!” Aku mengangkat kepalaku yang
sedari tadi bersandar di bahu sahabatku itu. Aku merasa terusik dengan kata-kata yang ia ucapkan.
Tega sekali!
“Ya.
Itu hanya cinta benalu yang tidak akan pernah tumbuh menjadi besar. Rasa yang akan segera pudar oleh waktu. Namun
akan merusak jika kamu
merawatnya.”
Kami
berdua saling diam. Aku semakin
tidak mengerti dengan apa yang disampaikan olehnya.
“Asma,
sejatinya cinta itu hanya milik Allah dan untuk Allah, ibadah yang selama ini kamu laksanakan tidak lain agar kamu dianggap baik di hadapannya. Namun
apakah tersirat di hatimu bagaimana Allah memandangmu yang sedang rajin beribadah
namun bukan untuk Allah akan tetapi agar dipandang indah oleh seorang manusia? Lagi pula, saleh di hadapan manusia belum tentu di
hadapan Allah.”
“Deg!” aku tersentak. Sungguh suatu
kenyataan yang tak mungkin bisa kuelakkan, mulutku bungkam walau hanya untuk
memberi alasan.
“Bersyukurlah, Asma. Bersyukurlah pada Allah. Sebab Allah
sedang menegur dan menagih cintaNya
padamu. Mengingatkanmu akan kesejatian cinta.” Ucap Fat meyakinkanku. “Insya Allah, kelak akan ada yang akan
meminangmu dan menyuntingmu untuk beribadah pada Allah. Membersamaimu untuk
mengabadikan cinta. Cinta karena Allah tentunya.” ujar Fat.
Lekat-lekat
ia pandangi wajahku dan mengusap lembut sisa air mata di ujung kelopak mataku. “Jika benar ia jodohmu, kelak Allah akan pertemukanmu
dengannya dengan cinta yang sebenarnya bukan cinta benalu.”
Nasihat Fat seperti salju
yang mengairi hatiku, memadamkan api amarah yang sempat memercik di hatiku. Seketika
kurengkuh Fat dalam
dekapanku.
“Terima
kasih,
Fat...” bisikku lembut di telinganya.
*****
Mataku
masih mengerjap. Sedang hatiku masih terbang kemasa lalu. Masa yang telah
mempertemukanku dengan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang terjalin antara
seorang hamba dan penguasa. Juga yang menguasai hatiku.
“Asma,
mengapa jendelanya di buka,
sayang? Nanti
masuk angin. Besok pagi akad nikahmu dengan Abdillah akan dilaksanakan,
istirahat ya.” Ucap ibu seraya menutup jendela beserta kordennya, menutup pintu kamar dan
meninggalkan senyuman untukku yang masih mematung.
“Allah …,” mataku kembali
mengerjap. Buliran bening itu tak bisa kutahan. Penaku kembali menyusurui
lembaran putih di hadapanku.
‘Angin
membawaku terbang bersama napas bidadari, menitah mahkota di tahta jiwa. Lalu
bersama kesegaran musim semi, kau membawaku terbang mengantar simpul setia dan
kepasrahan kepada kata-kata, menitis raja di antara samudera menjelma
permaisuri kefakiran asa. Menjadilah cinta selalu. Terbanglah untuk menyunting
mekar cinta.’
Nb.
Beberapa bagian diambil dari sumber (Majalah Annida)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar