Selasa, 02 September 2014

Malam Kelabu di Taman Surga







Hujroh[1] Salsabila kembali gempar! dalam satu minggu bagian keamanan sudah mencatat empat kasus kehilang dari kamar itu. Ranum selaku Amiroh[2] dianggap tidak mampu mengayomi lima belas santri putri yang diamanahkan kepadanya. Tidak tanggung-tanggung, maling itu justru nekat menjarah lemari sang Amirotul Hujroh.
            “Kakak tidak akan menghukum dan mengadukannya kepada Kyai jika dia mau mengakui kesalahannya!” Ranum menatap lekat-lekat empat belas pasang mata di hadapannya. Ultimatum yang menghambur dari bibirnya membuat semua wajah menunduk tidak sanggup membalas tatapan tajam sang Amiroh.
            Semua mulut bungkam. Samar-samar suara helaan nafas nyaris terdengar.
            “Tadi malam, ana melihat Husnah membuka lemari Kakak,” semua mata mengarah ke asal suara. “Dia mengambil sesuatu, Ana[3] tidak tau persis apa yang diambilnya.” Lian melanjutkan kesaksiannya 
            Seolah mengingat sesuatu, Ranum mencari wajah Husnah di hadapannya.  
            Aina[4] Husnah!” tanya Ranum geram.
            “Husnah sedang keluar pondok, Kak. Hampir dua minggu ini Husnah diberi izin oleh Bu Kiyai mengajar les privat anak Bu Lurah. Bu Lurah sendiri yang meminta langsung kepada Bu Kiyai,” Jawab Raihana sahabat Husnah. Sejauh ini hanya Raihana yang mengetahui pekerjaan sampingan Husnah. “Anak Bu Lurah hanya mau diajari oleh Husnah, sebab libur puasa kemarin Husnah sempat mengajar les privat anak Bu Lurah.” Lanjut Raihana hati-hati.
            “Beberapa hari ini ana sering melihat Husnah memakai pakaian baru dan sepatu baru, mungkin gak ya Husnah malingnya?” kata-kata yang terontar dari mulut Lian mengundang amarah di hati Raihana.
            “Kau punya bukti apa Lian! Jangan asal nuduh. Alfitnatu asyaddu minal qatli[5],” cecar  Raihana tidak terima sahabatnya dituduh tanpa bukti.
            “Kita lihat saja nanti. Aku sering mendapati Husnah pulang dengan kresek gendut menggantung di kedua tangannya. Dan kamu Raihana. Kamu juga ikut menikmatinya. Iya, kan!” Lian berdalih,  telunjuk lentiknya tajam mengarah ke wajah Raihana. Spontan Raihana terkejut mendengar tambahan fitnah Lian, air mukanya merah padam.
            “Isi kresek gendut itu tidak lain hanyalah pakaian bekas dari anaknya Bu lurah. Ingin rasanya kusumpal mulutmu itu dengan bara api, agar lidahmu yang berbisa itu tidak lagi bisa berkata sesuatu!” balas Raihana. “Ingat Lian, satu jari kamu arahkan padaku, empatnya lagi mengarah padamu! Jangan-jangan kamu malingnya dan menjadikan Husnah tumbalmu dengan kondisi yang mendukung.”
            “Cukup! Kalian santri tapi akhlak kalian tidak lebih rendah dari mereka yang yatim ilmu!” bentak Ranum. Sorot mata penuh keibuan hilang berganti dengan kesinisan.
            Air muka Lian berubah, wajahnya pasi sepucat purnama. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri penuh risau.
            Assalamualaikum,” sebuah suara memenuhi sudut ruangan.
            Semua mata tertuju pada sosok di ambang pintu kamar. Ranum memandang dua plastik kresek gendut di jemari Husnah, rasa tidak percaya menanaungi hatinya. Lian tersenyum tipis, cercaannya tepat sasaran.
            “Dasar Maling !” Umpat Lian penuh kepuasan. “Periksa saja lemarinya, ana yakin semua bukti ada di dalamnya!”
            Husnah tidak mampu berdalih saat Imelda mengangkat tinggi dompet yang ia temukan di lemari Husnah. Ranum menganga, kilat di matanya penuh dengan keraguan.
            “Kamar Salsabilah yang biasa di kenal baik sekarang menjadi sarang penyamun! Salah apa aku padamu, Husnah!” tanya Ranum penuh amarah.
            Hadzihi fitnah, Kak. Hadzihi fitnah, lastu syariqah![6]husnah berlutut mengiba di sisi Ranum, bola matanya dipenuhi butiran bening.
            Lau laaki man siwaaki ya Husnah![7]” timpal Lian, bibir tipisnya melengkung seperti samurai, niat untuk mengggeser Husnah sebagai saingannya tidak pernah terpikir olehnya semudah ini. Bahkan dengan kondisi semendukung ini. Sungguh diluar dugaan. Ia mengulum senyum dalam hati.
            Riana menunduk, ada rasa kawatir menyelinap dan merajai hati dan pikirannya.
            “Bukan aku yang melakukannya, kalian percaya padaku, kan?” Bisik Husnah lirih, ia tidak lagi punya kuasa membendung buliran bening yang menganak sungai dari matanya.
            Qismul Amni[8] sigap menjalankan tugasnya. Layaknya tersangka, Husnah langsung  digiring ke lapangan Volly. Satu  meja sudah disiapkan. Husnah terisak saat kakinya menapak di atas meja. Semua mata memandang hina penuh cibiran setiapkali membaca tulisan yang di kalungkan di lehernya  ‘Aku Maling, Aku Tidak Akan  Mengulanginya Lagi’.
                                                                        )i( )i()i(
            Malam kian larut, suara dengkuran halus sesekali terdengar membersamai nyanyian jangkrik di kesunyian. megap-megap Ranum menahan kantuk dan mencoba fokus dengan editan cerpen yang akan ia pajang di mading besok pagi. Ia berniat memandangi wajah-wajah binaannya, mungkin saja ada hal yang lucu dan mengusir jauh rasa kantuknya.
            Ma ... Madza ta’malin fi tilkal khijanah ya, Ukhti? Limadza lam tanamin?”[9] tanyanya gugup saat matanya memandang punggung yang ditutupi oleh geraian rambut hitam panjang.
            Lama keduanya saling diam, Ranum menyingkirkan rasa takutnya dan mendekat kesosok yang mematung.
            “Ana ... A ... na.”
            “Raihana!” pekiknya seketika, saat ia mendekati dan yakin akan siapa pemilik rambut itu. Beberapa santriwati terbangun mendengar suara pekik Ranum.
            Raihana membalik, wajahnya pasi menunduk malu. Ia tak kuasa menatap bola mata Husnah, Dompet ungu milik Lian erat dalam genggamannya, Husnah yang menyaksikan kejadian itu tidak percaya atas apa yang dilihatnya. fitnah keji itu justru dilayangkan oleh sahabatnya sendiri. Malam kelabu mengurai kabut di taman Salsabila.


1.        kamar
        [2].     pemimpin
        [3].     saya
        [4].     dimana
                [5]. “Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan”
                [6]. “ini fitnah, kak. Bukan saya malingnya!”
                [7]. “Kalau bukan kamu, siapa lagi wahai Husnah !”
                [8]. Bagian keamanan
                [9]. “Apa yang sedang kamu perbuat di lemari itu wahai saudariku? Mengapa kamu belum tidur?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar