Hujroh[1] Salsabila kembali gempar! dalam satu minggu bagian keamanan sudah mencatat empat kasus kehilang dari kamar itu. Ranum selaku Amiroh[2] dianggap tidak mampu mengayomi lima belas santri putri yang diamanahkan kepadanya. Tidak tanggung-tanggung, maling itu justru nekat menjarah lemari sang Amirotul Hujroh.
“Kakak tidak akan menghukum dan
mengadukannya kepada Kyai jika dia mau mengakui kesalahannya!” Ranum menatap
lekat-lekat empat belas pasang mata di hadapannya. Ultimatum yang menghambur
dari bibirnya membuat semua wajah menunduk tidak sanggup membalas tatapan tajam
sang Amiroh.
Semua mulut bungkam. Samar-samar
suara helaan nafas nyaris terdengar.
“Tadi malam, ana melihat Husnah membuka lemari Kakak,” semua mata mengarah ke
asal suara. “Dia mengambil sesuatu, Ana[3]
tidak tau persis apa yang diambilnya.” Lian melanjutkan kesaksiannya
Seolah mengingat sesuatu, Ranum
mencari wajah Husnah di hadapannya.
“Aina[4]
Husnah!” tanya Ranum geram.
“Husnah sedang keluar pondok, Kak.
Hampir dua minggu ini Husnah diberi izin oleh Bu Kiyai mengajar les privat anak
Bu Lurah. Bu Lurah sendiri yang meminta langsung kepada Bu Kiyai,” Jawab
Raihana sahabat Husnah. Sejauh ini hanya Raihana yang mengetahui pekerjaan
sampingan Husnah. “Anak Bu Lurah hanya mau diajari oleh Husnah, sebab libur puasa
kemarin Husnah sempat mengajar les privat
anak Bu Lurah.” Lanjut Raihana hati-hati.
“Beberapa hari ini ana sering melihat Husnah memakai
pakaian baru dan sepatu baru, mungkin gak ya Husnah malingnya?” kata-kata yang
terontar dari mulut Lian mengundang amarah di hati Raihana.
“Kau punya bukti apa Lian! Jangan
asal nuduh. Alfitnatu asyaddu minal qatli[5],” cecar
Raihana tidak terima sahabatnya dituduh
tanpa bukti.
“Kita lihat saja nanti. Aku sering
mendapati Husnah pulang dengan kresek gendut menggantung di kedua tangannya.
Dan kamu Raihana. Kamu juga ikut menikmatinya. Iya, kan!” Lian berdalih, telunjuk lentiknya tajam mengarah ke wajah
Raihana. Spontan Raihana terkejut mendengar tambahan fitnah Lian, air mukanya
merah padam.
“Isi kresek gendut itu tidak lain hanyalah
pakaian bekas dari anaknya Bu lurah. Ingin rasanya kusumpal mulutmu itu dengan
bara api, agar lidahmu yang berbisa itu tidak lagi bisa berkata sesuatu!” balas
Raihana. “Ingat Lian, satu jari kamu arahkan padaku, empatnya lagi mengarah
padamu! Jangan-jangan kamu malingnya dan menjadikan Husnah tumbalmu dengan
kondisi yang mendukung.”
“Cukup! Kalian santri tapi akhlak
kalian tidak lebih rendah dari mereka yang yatim ilmu!” bentak Ranum. Sorot
mata penuh keibuan hilang berganti dengan kesinisan.
Air muka Lian berubah, wajahnya pasi
sepucat purnama. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri penuh risau.
“Assalamualaikum,”
sebuah suara memenuhi sudut ruangan.
Semua mata tertuju pada sosok di
ambang pintu kamar. Ranum memandang dua plastik kresek gendut di jemari Husnah,
rasa tidak percaya menanaungi hatinya. Lian tersenyum tipis, cercaannya tepat sasaran.
“Dasar Maling !” Umpat Lian penuh kepuasan. “Periksa saja lemarinya, ana yakin semua bukti ada di dalamnya!”
Husnah tidak mampu berdalih saat
Imelda mengangkat tinggi dompet yang ia temukan di lemari Husnah. Ranum menganga,
kilat di matanya penuh dengan keraguan.
“Kamar Salsabilah yang biasa di
kenal baik sekarang menjadi sarang penyamun! Salah apa aku padamu, Husnah!”
tanya Ranum penuh amarah.
“Hadzihi
fitnah, Kak. Hadzihi fitnah, lastu syariqah![6]”
husnah berlutut mengiba di sisi Ranum, bola matanya dipenuhi butiran
bening.
“Lau
laaki man siwaaki ya Husnah![7]” timpal
Lian, bibir tipisnya melengkung seperti samurai, niat untuk mengggeser Husnah
sebagai saingannya tidak pernah terpikir olehnya semudah ini. Bahkan dengan
kondisi semendukung ini. Sungguh diluar dugaan. Ia mengulum senyum dalam hati.
Riana menunduk, ada rasa kawatir
menyelinap dan merajai hati dan pikirannya.
“Bukan aku yang melakukannya, kalian
percaya padaku, kan?” Bisik Husnah lirih, ia tidak lagi punya kuasa membendung
buliran bening yang menganak sungai dari matanya.
Qismul
Amni[8]
sigap menjalankan tugasnya. Layaknya tersangka, Husnah langsung digiring ke lapangan Volly. Satu meja sudah disiapkan. Husnah terisak saat
kakinya menapak di atas meja. Semua mata memandang hina penuh cibiran
setiapkali membaca tulisan yang di kalungkan di lehernya ‘Aku Maling, Aku Tidak Akan Mengulanginya Lagi’.
)i(
)i()i(
Malam kian larut, suara dengkuran halus
sesekali terdengar membersamai nyanyian jangkrik di kesunyian. megap-megap Ranum
menahan kantuk dan mencoba fokus dengan editan cerpen yang akan ia pajang di
mading besok pagi. Ia berniat memandangi wajah-wajah binaannya, mungkin saja
ada hal yang lucu dan mengusir jauh rasa kantuknya.
“Ma
... Madza ta’malin fi tilkal khijanah ya, Ukhti? Limadza lam tanamin?”[9]
tanyanya gugup saat matanya memandang punggung yang ditutupi oleh geraian
rambut hitam panjang.
Lama keduanya saling diam, Ranum
menyingkirkan rasa takutnya dan mendekat kesosok yang mematung.
“Ana ... A ... na.”
“Raihana!” pekiknya seketika, saat
ia mendekati dan yakin akan siapa pemilik rambut itu. Beberapa santriwati
terbangun mendengar suara pekik Ranum.
Raihana membalik, wajahnya pasi menunduk
malu. Ia tak kuasa menatap bola mata Husnah, Dompet ungu milik Lian erat dalam
genggamannya, Husnah yang menyaksikan kejadian itu tidak percaya atas apa yang
dilihatnya. fitnah keji itu justru dilayangkan oleh sahabatnya sendiri. Malam kelabu
mengurai kabut di taman Salsabila.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar