“Allah
maha kaya,
Dev. Empat
setengah juta itu sangat sedikit bagi Allah.” Ujarku klise, mencoba menenangkan
hati Devi yang sedang mengeluhkan biaya wisuda. Kalimat yang sesungguhnya kubisikkan
untuk menguatkan hatiku dan terus berprasangka baik kepada Allah.
“Allah Maha Kaya !” Kuulangi
kata-kata itu dan mencatatnya
di dasar hatiku.
Tinggal satu
minggu pendaftaran sidang munaqashah akan ditutup. Kubuat list nama-nama yang
mungkin bisa membantu,
setidaknya memberikanku pinjaman dan mecicilnya setiap bulan. Mulai dari sanak
famili sampai teman kuliyah yang kuanggap lumayan berada.
Usai
jam perkuliyahan. Kakiku
mantap melangkah menuju
perumahan yang layak
dihuni kalangan menengah ke atas. Om Edy sepupu ibu
tujuanku yang pertama.
Besar harapankku bertemu dan berkeluh kesah padanya yang selalu ringan tangan dalam
urursan sedekah.
Aku masih ingat, dulu saat
sedang galau memikirkan uang kuliyah yang sudah bertumpuk, ditambah lagi uang
pembangunan yang sepersen pun belum kucicil, sedang ujian tengah semester
tinggal menghitung hari. Sungguh diluar dugaan, tanpa sepengetahuanku Om Edy
yang baik hati itu telah melunasi hutang-hutangku selama dua semester, itu
berarti aku aman untuk semester selanjutnya.
Aku cemas saat namaku
dipanggil lewat pengeras suara yang kutahu berasal dari kantor senad. Langkahku
lunglai, aku sudah terima nasib jika harus didrop out dari kampus. Nanar mataku
saat beradu pandang dengan petugas administrasi kampus.
“Belum dapat kartu ujian,
kan?” tanyanya seraya mempersilahkanku duduk.
“Belum, Bu…” jawabku terbata
seraya dengan gelengan kepala, aku sengaja menunduk menyembunyikan bulir bening
yang terasa mulai hangat di kornea mataku.
“Kamu tetap bisa ujian, ini
kartu ujianmu,” ucapnya lembut. Menenangkan, sepertinya ia tau aku sedang
menahan haru, “Tunggakanmu selama 2 semester ini sudah lunas,…”
Spontan aku mengangkat
kepala “Siapa yang melakukannya, Bu?” aku menyela ucapannya yang belum selesai.
Dia memandangku lekat-lekat seraya
tersenyum “Dia orang baik, kamu tak perlu kawatir,” ujaranya ditengah
keharuanku. Aku hanya mengangguk kemudian bersungut-sungut meninggalkan ruangan
dengan beribu tanda tanya.
Di otaku tidak ada satu nama
pun yang tercatat menjadi jawaban tentang ‘siapa?’ yang sudah melunasi
hutang-hutangku. Aku masih termenung menikmati perasaan yang kurasa seperti
nano-nano. Kumainkan handphoneku memutar-mutarnya diantara jari telunjuk dan
jempolku. Hey ada satu pesan yang belum kubaca.
‘Kartu ujiannya sudah diambilkan? Belajar yang rajin.’ Isi pesan singkat itu cukup menjadi jawaban dari
kekalutanku, Om Edy.
“Tiiiiiiiiiiiiiiiiit…” suara
klakson mobil pribadi di mulut gang menyadarkan lamunku.
“Assalamu’alaikum...”
ucapku setelah kakiku
berada di balik pagar besi rumah Om Edy. Tidak ada jawaban.
Kupandangi pintu tertutup rapat. Hatiku
pun muai menciut.
“Pak
Edy dan keluarganya sedang ke luar kota, Dek!” ujar seorang ibu, tetangga Om Edy, “ mungkin pulangnnya minggu depan,”
pungkasnya lagi dan
kemudin tersenyum ramah.
“Oh
begitu, makasih ya,
Bu...” ucapku sambil berlalu.
Kulabuhkan
pandangan ke langit senja. Kemilau jingga menghiasi mega. Indah. Mataku tetap
tak beranjak berharap embun hangat itu tidak sampai tumpah menjalari pipiku.
-=
o0o =-
Beberapa
nama yang kubuat dalam list hampir kucoret semua. Tinggal satu nama lagi yang
belum kucoba mintai bantuannya.
“Abang!” aku menggumam.
Kuraih
handphone dan langsung menekan tombol calling
setelah kupastikan nama yang kutuju tidak salah.
“Assalamu’alaikum, Dek.” terdengar suara dari seberang
“Wa’alaikum salam,
Bang. Abang sehat?.” Tanyaku pelan
“Alhamdulillah sehat, Dek. Dek, tepat sekali kamu menelpon.
Tadinya abang juga pengen nelpon kamu, tapi pulsa abang tidak cukup,”
“Ada
apa Bang?” tanyaku lagi setelah kurasai ada sesuatu yang tersimpan dari kata-katanya.
“Hampir
satu bulan cuaca kurang begitu baik. Abang gak bisa melaut, Dek, Abang butuh uang untuk bayar
cicilan di bank. Kamu punya simpanan?” tanya abang dengan nada penuh
pengharapan.
Sesaat aku terdiam memikirkan kebutuhanku yang
begitu mendesak juga kebutuhan abang yang tak kalah menuntut. Aku sangat sadar
andai aku tidak membantu abang maka rumah satu-satunya peninggalan almarhum
Ayah dan Ibu akan di lelang sebab riwayat pinjaman abang yang tidak begitu
lancar.
“Iya, Bang. Aku transfer sekarang ya.” tukasku mantap, tentu saja dengan
nada yang bisa menyembunyikan sesak yang kian terasa seperti palu godam yang
menghantam ruang hatiku.
Tabunganku yang menjadi benteng pertahanan ternyata bukan hakku.
“Ah… seberat inikah ya Allah, andai saja keduanya masih ada akankah
masih sesulit ini?”
mataku mengerjap. Bulir bening mengairi ruas tulang pipiku tak mampu lagi
kucegah.
-=
o0o =-
Merdu
kumandang azan begitu menyusup larut kedalam hatiku. Setelah kupastikan kiriman
berhasil, kutinggalkan bilik uang itu dan membiarkan suara azan menuntun
langkahku menuju mesjid terdekat. Entah mengapa aku sangat ingin sujud mengadu
dan berkeluh kesah kepada Yang Maha Kaya.
Kuairi
setiap anggota wudhuku,
dan
melangkah memasuki mesjid. Sengaja kupilih ayat yang membantu menguatkanku. Bacaanku tercekat saat
membaca penggalan ayat dalam surah At-thalaq.
‘Wa
man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib wa
man yatawakkal ‘alallah fahua hasbuh innallaha balighu amrih qad ja’alallahu
likui syai’in qadra.’
Tanpa terasa air mataku mengalir
perlahan dan tumpah menganak sungai saat keningku mencumbui sajadah.
Kutumpahkan segala keluh kesah
yang memenuhi rongga hatiku dan memasrahkan segalanya hanya
pada Allah. Aku tak
lagi memaksakan untuk wisuda tahun ini. Ada kedamaian
saat kututup doaku. Sesungging senyum melayang di langit-langit mesjid. Tenang sekali.
-= o0o =-
‘Allah
yang menggerakkan angin. Menurunkan hujan dan menghidupkan kembali yang sudah
mati. Membukakan hati siapa saja yang Ia kehendaki. Dan menutupnya dengan
sangat rapat kepada sesiapa saja
yang ia kehendaki. Allah Raja diraja. Melebihkan rizkinya kepada siapa saja
yang Ia kehendaki dan membatasinya kesesiapa yang Ia kehendaki’.
Mataku
tak cukup mampu menampung embun yang sejak tadi berkaca-kaca di bola mataku.
Aku menunduk penuh syukur. Wanita itu. Yang baru satu bulan menjadi mu’allaf
dan mengkaffahkan dirinya dalam agama yang di rahmati merangkul erat pundakku.
“Sudahlah, Rara. Kamu bisa mengembalikannya kapan
saja kamu mau.” Ucapnya lembut di
telingaku. “Apa
yang kuberikan saat ini bukan seberapa dibandingkan hidayah yang Allah berikan
padaku, dan itu melalui kamu,
Ra! Dan
kerudung ini,” suaranya tertahan dan terdengar parau, “kamulah untuk yang pertama kali
mengenakannya usai aku mengucap syahadat.” Lanjutnya lagi dengan nada haru.
Kupandangi
wajahnya. Ada keikhlasan
dan ketulusan di matanya.
“Allahu Akbar!” Aku
tersungkur sujud penuh syukur di bawah langitnya. Kudapati ia pun melakukan hal
yang sama.
Lembut
sepoi angin menyisik ujung kerudungku dan Syifa yang sekarang telah menjadi
saudariku seakidah. Mata kami lurus menatap laut yang membentang luas. Sejurus
kami saling diam larut munajah dan mengagumi cinta Sang Pencipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar