Selasa, 02 September 2014

Allah Maha Kaya




“Allah maha kaya, Dev. Empat setengah juta itu sangat sedikit bagi Allah.” Ujarku klise, mencoba menenangkan hati Devi yang sedang mengeluhkan biaya wisuda. Kalimat yang sesungguhnya kubisikkan untuk menguatkan hatiku dan terus berprasangka baik kepada Allah.
“Allah Maha Kaya !” Kuulangi kata-kata itu dan mencatatnya di dasar hatiku.  
Tinggal satu minggu pendaftaran sidang munaqashah akan ditutup. Kubuat list nama-nama yang mungkin bisa membantu, setidaknya memberikanku pinjaman dan mecicilnya setiap bulan. Mulai dari sanak famili sampai teman kuliyah yang kuanggap lumayan berada.
Usai jam perkuliyahan. Kakiku mantap melangkah menuju perumahan yang layak dihuni kalangan menengah ke atas. Om Edy sepupu ibu tujuanku yang pertama. Besar harapankku bertemu dan berkeluh kesah padanya yang selalu ringan tangan dalam urursan sedekah.
Aku masih ingat, dulu saat sedang galau memikirkan uang kuliyah yang sudah bertumpuk, ditambah lagi uang pembangunan yang sepersen pun belum kucicil, sedang ujian tengah semester tinggal menghitung hari. Sungguh diluar dugaan, tanpa sepengetahuanku Om Edy yang baik hati itu telah melunasi hutang-hutangku selama dua semester, itu berarti aku aman untuk semester selanjutnya.
Aku cemas saat namaku dipanggil lewat pengeras suara yang kutahu berasal dari kantor senad. Langkahku lunglai, aku sudah terima nasib jika harus didrop out dari kampus. Nanar mataku saat beradu pandang dengan petugas administrasi kampus.
“Belum dapat kartu ujian, kan?” tanyanya seraya mempersilahkanku duduk.
“Belum, Bu…” jawabku terbata seraya dengan gelengan kepala, aku sengaja menunduk menyembunyikan bulir bening yang terasa mulai hangat di kornea mataku.
“Kamu tetap bisa ujian, ini kartu ujianmu,” ucapnya lembut. Menenangkan, sepertinya ia tau aku sedang menahan haru, “Tunggakanmu selama 2 semester ini sudah lunas,…”
Spontan aku mengangkat kepala “Siapa yang melakukannya, Bu?” aku menyela ucapannya yang belum selesai.
Dia memandangku lekat-lekat seraya tersenyum “Dia orang baik, kamu tak perlu kawatir,” ujaranya ditengah keharuanku. Aku hanya mengangguk kemudian bersungut-sungut meninggalkan ruangan dengan beribu tanda tanya.
Di otaku tidak ada satu nama pun yang tercatat menjadi jawaban tentang ‘siapa?’ yang sudah melunasi hutang-hutangku. Aku masih termenung menikmati perasaan yang kurasa seperti nano-nano. Kumainkan handphoneku memutar-mutarnya diantara jari telunjuk dan jempolku. Hey ada satu pesan yang belum kubaca.
‘Kartu ujiannya sudah diambilkan? Belajar yang rajin.’ Isi pesan singkat itu cukup menjadi jawaban dari kekalutanku, Om Edy.
“Tiiiiiiiiiiiiiiiiit…” suara klakson mobil pribadi di mulut gang menyadarkan lamunku.
“Assalamu’alaikum...” ucapku setelah kakiku berada di balik pagar besi rumah Om Edy. Tidak ada jawaban. Kupandangi  pintu tertutup rapat. Hatiku pun muai menciut.
“Pak Edy dan keluarganya sedang ke luar kota, Dek!” ujar seorang ibu, tetangga Om Edy, mungkin pulangnnya minggu depan,” pungkasnya lagi dan kemudin tersenyum ramah.
“Oh begitu, makasih ya, Bu...” ucapku sambil berlalu.
Kulabuhkan pandangan ke langit senja. Kemilau jingga menghiasi mega. Indah. Mataku tetap tak beranjak berharap embun hangat itu tidak sampai tumpah menjalari pipiku.
                                                                        -= o0o =-
Beberapa nama yang kubuat dalam list hampir kucoret semua. Tinggal satu nama lagi yang belum kucoba mintai bantuannya.
“Abang!”  aku menggumam.
Kuraih handphone dan langsung menekan tombol calling setelah kupastikan nama yang kutuju tidak salah.
Assalamu’alaikum, Dek.” terdengar suara dari seberang
Wa’alaikum salam, Bang. Abang sehat?.” Tanyaku pelan
Alhamdulillah sehat, Dek. Dek, tepat sekali kamu menelpon. Tadinya abang juga pengen nelpon kamu, tapi pulsa abang tidak cukup,”
“Ada apa Bang?” tanyaku lagi setelah kurasai ada sesuatu yang tersimpan dari kata-katanya.
“Hampir satu bulan cuaca kurang begitu baik. Abang gak bisa melaut, Dek, Abang butuh uang untuk bayar cicilan di bank. Kamu punya simpanan?” tanya abang dengan nada penuh pengharapan.
 Sesaat aku terdiam memikirkan kebutuhanku yang begitu mendesak juga kebutuhan abang yang tak kalah menuntut. Aku sangat sadar andai aku tidak membantu abang maka rumah satu-satunya peninggalan almarhum Ayah dan Ibu akan di lelang sebab riwayat pinjaman abang yang tidak begitu lancar.
“Iya, Bang. Aku transfer sekarang ya.” tukasku mantap, tentu saja dengan nada yang bisa menyembunyikan sesak yang kian terasa seperti palu godam yang menghantam ruang hatiku. Tabunganku yang menjadi benteng pertahanan ternyata bukan hakku.
“Ah… seberat inikah ya Allah, andai saja keduanya masih ada akankah masih sesulit ini?” mataku mengerjap. Bulir bening mengairi ruas tulang pipiku tak mampu lagi kucegah.
                                                                        -= o0o =-
Merdu kumandang azan begitu menyusup larut kedalam hatiku. Setelah kupastikan kiriman berhasil, kutinggalkan bilik uang itu dan membiarkan suara azan menuntun langkahku menuju mesjid terdekat. Entah mengapa aku sangat ingin sujud mengadu dan berkeluh kesah kepada Yang Maha Kaya.
Kuairi setiap anggota wudhuku, dan melangkah memasuki mesjid.  Sengaja kupilih ayat yang  membantu menguatkanku. Bacaanku tercekat saat membaca penggalan ayat dalam surah At-thalaq.
Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib wa man yatawakkal ‘alallah fahua hasbuh innallaha balighu amrih qad ja’alallahu likui syai’in qadra.
Tanpa terasa air mataku mengalir perlahan dan tumpah menganak sungai saat keningku mencumbui sajadah. Kutumpahkan segala keluh kesah yang memenuhi rongga hatiku dan memasrahkan segalanya hanya pada Allah. Aku tak lagi memaksakan untuk wisuda tahun ini. Ada kedamaian saat kututup doaku. Sesungging senyum melayang di langit-langit mesjid. Tenang sekali.
                                                                        -= o0o =-
Allah yang menggerakkan angin. Menurunkan hujan dan menghidupkan kembali yang sudah mati. Membukakan hati siapa saja yang Ia kehendaki. Dan menutupnya dengan sangat rapat kepada sesiapa saja yang ia kehendaki. Allah Raja diraja. Melebihkan rizkinya kepada siapa saja yang Ia kehendaki dan membatasinya kesesiapa yang Ia kehendaki.
Mataku tak cukup mampu menampung embun yang sejak tadi berkaca-kaca di bola mataku. Aku menunduk penuh syukur. Wanita itu. Yang baru satu bulan menjadi mu’allaf dan mengkaffahkan dirinya dalam agama yang di rahmati merangkul erat pundakku.
“Sudahlah, Rara. Kamu bisa mengembalikannya kapan saja kamu  mau.” Ucapnya lembut di telingaku. “Apa yang kuberikan saat ini bukan seberapa dibandingkan hidayah yang Allah berikan padaku, dan itu melalui kamu, Ra! Dan kerudung ini,” suaranya tertahan dan terdengar parau, “kamulah untuk yang pertama kali mengenakannya usai aku mengucap syahadat.” Lanjutnya lagi dengan nada haru.
Kupandangi wajahnya. Ada keikhlasan dan ketulusan di matanya.
“Allahu Akbar!” Aku tersungkur sujud penuh syukur di bawah langitnya. Kudapati ia pun melakukan hal yang sama.
Lembut sepoi angin menyisik ujung kerudungku dan Syifa yang sekarang telah menjadi saudariku seakidah. Mata kami lurus menatap laut yang membentang luas. Sejurus kami saling diam larut munajah dan mengagumi cinta Sang Pencipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar