Sabtu, 06 September 2014

Kisah Teladan

seringkali kita menyimpan prasangka terhadap hamba Allah, mengkritiknya dalam hati dan tidak mnanyakannya secara langsung. semoga kisah teladan di bawah ini membekaskan ibroh bagi kita.

Suatu ketika di bulan Ramadhan, di pengajian rutin di Masjid Iman di Damascus, almarhum sidna sheikh Al Buty pernah bercerita begini, 

“Ada sebuah cerita, berkali-kali saya pikirkan untuk bercerita, tapi saya ragu,kali ini saya akan menceritakannya, adaseorang akh yang selalu rutin hadir di pengajian ini, tapi sepertinya selama bulan Ramadhan dia tidak datang, insyallah dia orang yang shaleh. 

Dia memiliki jenggot yang tebal, suatu hari saya melihatnya mencukur jenggot itu lebih dari biasanya, terlalu tipis, sudah hampir habis dicukur, terbesit dalam pikiran saya untuk mengkritiknya, kenapa kamu mencukur jenggotmu seperti itu, mendingan kalau memang dasarnya kamu tidak punya jenggot atau jenggotmu tipis, tidak masalah.
 

Tapi kritikan itu belum saya utarakan, masih bisikan dalam hati.Ternyata Allah ingin menegur saya, ketika saya ke tukang cukur, tanpa sengaja tukang cukur itu mencukur jenggot saya hampir habis, sayapun kesal, saat itu saya langsung teringat apa yang saya pikirkan tentang akh yang kemarin ingin saya kritik, akh itu tidak hadir disini hari ini, tapi insyallah besok saya akan menemui dia dan minta maaf”.

Tiba-tiba beliau menangis, dengan suara terpatah-patah beliau menambahkan, “wahai saudaraku, kita tidak boleh mengkritik orang lain, apalagi kritikan dalam hati, itu bagian dari suu zhon pada hamba Allah, kalau memang ada kejanggalan silahkan tanya kepada yang bersangkutan, konfirmasi, bicara baik-baik, jangan seperti saya ini, saya merasa dengan mengkritik dia saya sudah berbuat baik, saya berdoa semoga Allah menganugerahi kita adab dan akhlak yang baik saat memperlakukan hamba-hamba-Nya”.

Imam Abu Wael, seorang Tabiin, berkatasaat orang-orang mencaci Hajjaj bin Yusuf di sebuah majlis, “Janganlah seperti itu, siapa tahu dia tengah malamberdoa, Ya Allah ampunilah aku dan Allah telah mengampuninya”.Allah Yarhamak sayyidi Al Buty, selama hidupmu engkau selalu mengajarkan kamiuntuk selalu husnu dhan dan berprasangka baik kepada hamba-hambaAllah, siapapun mereka… :(

SALAH SATU CARA MUDAH MENGHAPAL NAMA2 SURAH DALAM AL QUR’AN


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh

Al Qur’an adalah Kitab Suci agama Islam yang wajib di baca dan dipelajari oleh setiap umat Muslim.Namun faktanya , sangat jarang umat muslim yang bisa menghapal seluruh isi Al Qur’an ( Tahfidz ). Jangankan hapal isinya , urutan nama-nama surah yang ada dalam Al Qur’an saja tidak banyak yang hapal. Nah untuk lebih meningkatkan motivasi kita semua agar nantinya mampu menghapal seluruh isi Al Qur’an , maka saya coba memulainya
dengan memberikan satu cara yang menyenangkan untuk menghapal nama-nama surah dalam Al Qur’an. Salah satu metode menghapal yang cukup efektif adalah dengan membuat
cerita dari urutan surah sehingga kita mudah mengingatnya.

Cobalah baca Cerita-cerita di bawah ini, dan perhatikan kata-kata yang berhuruf besar. Kata- kata tersebut adalah nama-nama surat dalam Al Qur’an. Hafalkan ceritanya, dan kemudian tuliskan kata-kata tersebut secara berurut.Maka akan kita dapatkan nama surat
dan nomor urutnya. Silahkan mencoba :

Cerita I ; (Surah 1 – 10)

Paman membaca AL FATIHAH sebelum memasak SAPI BETINA milik KELUARGA IMRAN yang punya anak wanita bernama AN NISA. Sebagian HIDANGAN itu diberikan untuk BINATANG TERNAK. Kemudian paman menuju TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI, untuk mencuri HARTA RAMPASAN PERANG. Namun akhirnya paman ber-TAUBAT seperti taubatnya Nabi YUNUS.

NO.KRONOLOGI CERITA
1. AL-FATIHAH
2. SAPI BETINA – AL-BAQOROH
3. KELUARGA IMRAN – ALI IMRON
4. AN NISA
5. HIDANGAN – AL MAIDAH
6. BINATANG TERNAK – AL AN ‘AM
7. TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI – AL A’ ROF
8. HARTA RAMPASAN PERANG – AL ANFAL
9. TAUBAT – AT TAUBAH
10. YUNUS

Cerita II; (Surah 11 – 20)

HUD dan YUSUF melihat PETIR.Sementara itu IBRAHIM sedang berada di PEGUNUNGAN HIJR. Ia mencari LEBAH, untuk kemudian memulai PERJALANAN MALAM menuju ke GUA untuk menemui MARYAM dan TOHA.

NO. KRONOLOGI CERITA
11. HUD
12. YUSUF
13. PETIR – AR RA’D
14. IBRAHIM
15. PEGUNUNGAN HIJR – AL HIJR
16. LEBAH – AN NAHL
17. PERJALANAN MALAM – AL ISRO
18. GUA – AL KAHFI
19. MARYAM
20. TOHA

Cerita III ; (Surah 21 – 30)

PARA NABI pergi HAJI diikuti oleh ORANG-ORANG BERIMAN. Mereka seperti CAHAYA. Inilah yang menjadi PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL. Sementara itu, PARA PENYAIR bercerita tentang SEMUT.
Cerita itu terangkum dalam buku KISAH –KISAH. Dalam buku itu juga diceritakan tentang LABA-LABA yang menyerang BANGSA ROMAWI.

NO. KRONOLOGI CERITA
21. PARA NABI – AL ANBIYA
22. HAJI – AL HAJJ
23. ORANG – ORANG BERIMAN-ALMU’MINUN
24. CAHAYA – AN NUR
25. PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL – AL FURQON
26. PARA PENYAIR – ASY SYU ‘ARO
27. SEMUT-AN NAML
28. KISAH2 – AL QOSHOSH
29. LABA-LABA – AL ‘ANKABUT
30. BANGSA ROMAWI – AR RUM

Cerita IV ; (Surah 31 – 40)

LUKMAN tidak berSUJUD di kaum yang terkena AHZAB dan tidak juga kepada kaum SABA’. Sementara itu FATHIR dan YASIN berdiri bersama orang YANG BERSHAF-SHAF dan membentuk huruf SHOD. Mereka teramasuk ROMBONGAN – ROMBONGAN yang memohon ampunan kepada YANG MAHA PENGAMPUN.

NO. KRONOLOGI CERITA
31. LUKMAN – LUQMAN
32. SUJUD – AS SAJDAH
33. AL AHZAB
34. SABA’
35. FATHIR
36. YASIN
37. YANG BERSHAF2– ASH SHOOFFAT
38. SHOD
39. ROMBONGAN-ROMBONGAN – AZZUMAR
40.YANG MAHA PENGAMPUN –GHOFIR

Cerita V; (Surah 41 – 50)

YANG DIJELASKAN dalam MUSYAWARAH itu adalah tentang PERHIASAN. Bukan tentang KABUT. Sementara itu banyak orang YANG BERLUTUT di BUKIT-BUKIT PASIR. Saat itulah MUHAMMAD mendapat KEMENANGAN. Hal ini ditandai dengan KAMAR-KAMAR bertuliskan huruf QOF.

NO. KRONOLOGI CERITA
41. YANG DIJELASKAN – FUSHSHILAT
42. MUSYAWARAH – ASY SYURA
43. PERHIASAN – AZ ZUKHRUF
44. KABUT – AD DUKHAN
45. YANG BERLUTUT – AL JATSIYAH
46. BUKIT2 PASIR – AL AHQOF
47. MUHAMMAD – MUHAMMAD
48. KEMENANGAN – AL FATH
49. KAMAR2– AL HUJURAT
50. QOF
 
Cerita VI ; (Surah 51 – 60)

ANGIN YANG MENERBANGKAN membawa awan ke bukit THURSINA. Ini terjadi saat BINTANG dan BULAN bersinar. Sementara itu pak RAHMAN sedang berceramah tentang HARI KIAMAT. Dimana BESI hancur, WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN mengalami PENGUSIRAN, dan banyak PEREMPUAN YANG DIUJI.

NO. KRONOLOGI CERITA
51. ANGIN YANG MENERBANGKAN –ADZ DZARIYAT
52. THURSINA – ATH THUR
53. BINTANG – AN NAJM
54. BULAN – AL QOMAR
55. AR RAHMAN
56. HARI KIAMAT – AL WAQI ‘AH
57. BESI – AL HADID
58. WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN – AL MUJADILAH
59. PENGUSIRAN – AL HASYR
60. PEREMPUAN YANG DIUJI – AL MUMTAHANAH

Cerita VII ; (Surah 61 – 70)

BARISAN orang beriman pada HARI JUM’AT berbeda dengan ORANG – ORANG MUNAFIK. Demikian juga pada HARI DITAMPAKAN KESALAHAN -KESALAHAN. Ketika aku di-TALAK, aku MENGHARAMKAN dia untuk masuk rumah ini. KERAJAAN yang indah, PENA yang mahal, pada HARI KIAMAT tidak lagi berharga. Disinilah
TEMPAT-TEMPAT NAIK bagi amal sholih.

NO. KRONOLOGI CERITA
61. BARISAN – ASH SHOF
62. HARI JUM’AT – AL JUMU’AH
63. ORANG-ORANG MUNAFIK – AL MUNAFIQUN
64. HARI DITAMPAKAN KESALAHAN-KESALAHAN – AL TAGHOBUN
65. TALAK – ATH THOLAQ
66. MENGHARAMKAN – AT TAHRIM
67. KERAJAAN – AL MULK
68. PENA – AL QOLAM
69. HARI KIAMAT – AL HAAQQAH
70. TEMPAT2 NAIK – AL MA‘ARIJ

Cerita VIII ; (Surah 71 – 80)

NUH diganggu JIN disaat ORANG YANG BERSELIMUT dan ORANG YANG BERKEMUL tertidur pulas. Ia tidak menyadari datangnya KIAMAT. Sementara itu, ketika MANUSIA bertemu dengan MALAIKAT YANG DIUTUS untuk menyampaikan BERITA BESAR tentang kematian, MALAIKAT-MALAIKAT YANG MENCABUT nyawa sedang melihat IA BERMUKA MASAM.

NO. KRONOLOGI CERITA
71. NUH – NUH
72. JIN – AL JINN
73. ORANG YANG BERSELIMUT – ALMUZAMMIL 
74. ORANG YANG BERKEMUL – ALMUDATSTSIR
75. KIAMAT – AL QIYAMAH
76. MANUSIA – AL INSAN
77. MALAIKAT YANG DIUTUS – ALMURSALAT
78. BERITA BESAR – AN NABA’
79. MALAIKAT2 YANG MENCABUT – AN NAZI ‘AT
80. IA BERMUKA MASAM – ‘ABASA

Cerita IX ; (Surah 81 – 90)
Ombak MENGGULUNG, bumi TERBELAH, ORANG-ORANG YANG CURANG pun ikut TERBELAH. Mereka seperti GUGUSAN BINTANG YANG DATANG DI MALAM HARI. Mereka berada di tempat YANG PALING TINGGI. Pada HARI PEMBALASAN tidak akan muncul FAJAR di NEGERI manapun.

NO. KRONOLOGI CERITA
81. MENGGULUNG – AT TAKWIR
82. TERBELAH – AL INFITHOR
83. ORANG-ORANG YANG CURANG –AL MUTHOFFIFIN
84. TERBELAH – AL INSYIQOQ
85. GUGUSAN BINTANG – AL BURUJ
86. YANG DATANG DI MALAM HARI – ATH THORIQ
87. YANG PALING TINGGI – AL A ‘LA
88. HARI PEMBALASAN – AL GHOSYIYAH
89. FAJAR – AL FAJR
90. NEGERI – AL BALAD

Cerita X; (Surah 91 – 100)

MATAHARI tenggelam saat MALAM tiba. Dan ketika WAKTU DHUHA, Allah MELAPANGKAN rizki dan menumbuhkan BUAH TIN. Sementara itu manusia yang berasal dari SEGUMPAL DARAH tidak mempunyai KEMULIAAN sedikit pun. Ini adalah BUKTI akan terjadi KEGONCANGAN di dunia. Hingga KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG pun mati.

NO. KRONOLOGI CERITA
91. MATAHARI – ASY SYAMS
92. MALAM – AL LAIL
93. WAKTU DHUHA – ADH DHUHA
94. MELAPANGKAN – AL INSYIROH
95. BUAH TIN – AT TIN
96. SEGUMPAL DARAH – AL ‘ALAQ
97. KEMULIAAN – AL QODR
98. BUKTI – AL BAYYINAH
99. KEGONCANGAN – AZ ZALZALAH
100. KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG – AL`ADIYAT

Cerita XI ; (Surah 101 – 110)

HARI KIAMAT, hari dimana manusia
tidak bisa lagi BERMEGAH-MEGAHAN. Pada MASA itulah si PENGUMPAT mati diinjak-injak GAJAH. Sementara itu SUKU QURAISY bertengkar dengan pak MA’UN di tepi telaga KAUTSAR. Saat itu ORANG-ORANG KAFIR tidak mendapatkan PERTOLONGAN.

NO. KRONOLOGI CERITA
101. HARI KIAMAT– AL QORI ‘AH
102. BERMEGAH-MEGAHAN – AT TAKATSUR
103. MASA – AL ‘ASHR
104. PENGUMPAT – AL HUMAZAH
105. GAJAH – AL FI-L
106. SUKU QURAISY – QURAISY
107. MA’UN – AL MA ‘UN
108. KAUTSAR – AL KAUTSAR
109. ORANG-ORANG KAFIR – AL KAFIRUN
110. PERTOLONGAN – AN NASHR

Cerita XII (Surah 111-114)

Insya Allah 4 surat terakhir ini semua
dari kita sudah menghafalnya.
NO.SURAT
111. AL LAHAB
112. AL IKHLASH
113. AL FALAQ
114. AN NAAS

Selasa, 02 September 2014

Bukan Cinta Benalu




Bagiku mencintai adalah suatu proses memahami dan merelakan. Mungkin teramat sederhana untuk pengungkapan makna cinta. Sebab cinta bagiku adalah kesetiaan, yang berarti menyertai selamanya. Lalu apakah harus memiliki?, bagiku tidak perlu, sebab cukup dengan merasakan cinta, maka cinta pun hadir. Cinta adalah awan  yang mengembara bebas  singgah semaunya di mana saja.’
Selayaknya bunga diantara dedaunan yang mekar dan bersemi. Akupun tak perlu  memilikinya untuk dapat mengungkapkan perasaan cinta, atau mencabutnya untuk kumiliki sendiri. Untuk apa?. Jika …, nantinya bunga itu pun menjadi layu, berpisah dengan kesegaran dedaunan. Terenggut dari perasaan nyaman, lalu sesudah itu aku pun paling-paling membuangnya. Membuangnya? Ah, aku tidak akan pernah mau melakukannya. Cukuplah cinta untuk cinta. Ya. Hanya cinta yang akan mencintai cinta. Seperti cintaku saat ini kepada yang Maha Cinta.
Wajahku menengadah kelangit-langit kamar. Ujung pena yang sejak tadi menari lincah tergeletak diantara jemariku. Perlahan aku bangkit membuka jendela kamar yang masih ditutupi korden ungu kesayanganku. Wajahku tenggelam diantara bintang di langit, desir angin pada pucuk kelapa terdengar merdu menelisik hatiku.
Mataku mengerjap. Seketika bulir bening mengairi rona wajahku yang terkenai sinar rembulan. Mataku masih mengatup. Namun hatiku tetap saja bercengkrama dengan keagungan cinta yang saat ini telah memenuhi rongga dadaku walau sebelumnya hancur berkeping di sebabkan cinta buta yang bermuara di hatiku.
Terima kasih Allah ..., terima kasih, atas cinta-Mu yang maha suci.” Bibirku mengalunkan tahmid membersamai bulir bening yang mulai menganak sungai.
*****
“Dayat, pria shaleh yang kukenali beberapa bulan yang lalu, Fat,” aku mulai membuka cerita, “Dia yang selalu membangunkanku untuk tahajud! mengingatkan untuk salat dhuha. mengajak puasa sunah senin kamis. Dia juga yang sering memberi nasehati ketika aku dirundung masalah, Fat.” Lanjutku dengan kesan amarah dan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Terus?” tanya Fatma dengan nada lembut, manggut-manggut. “Apa itu yang membuatmu jatuh cinta padanya?” terka Fat.
Darahku berdesir. Sejenak aku terdiam memunguti kata-kata yang kurasa sangat malu untuk kuungkap.
“Apa aku salah jika mencintainya, Fat? Cinta yang hadir sebab keshalihannya?” Suaraku tercekat. Parau.
“Sejak kapan ini berlangsung? Selidik Fatma tetap dengan nada semula, seraya mengelus lembut punggungku yang ditutupi kerudung.
“Sejak ia tak pernah lagi membangunkanku untuk bertahajud, Fat. Sejak ia tak lagi mengingatkan untuk salat Dhuha dan puasa senin kamis. Sejak ia menghilang dan tak kutau saat ini keberadaannya.” Aku pun terisak. Air mata kerinduan mengalir hangat di pipiku.
“Tidak ada yang salah dengan cinta, Asma.” bisik Fat lembut di telingaku. “Cintamu padanya hanya sebatas kekaguman saja, cinta semu layaknya benalu yang singgah mengakar dan merusak batang pohon.” Lanjut  Fat tegas.
“Maksudmu!” Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi bersandar di bahu sahabatku itu. Aku merasa terusik dengan kata-kata yang ia ucapkan. Tega sekali!
“Ya. Itu hanya cinta benalu yang tidak akan pernah tumbuh menjadi besar. Rasa yang akan segera pudar oleh waktu. Namun akan merusak jika kamu merawatnya.”
Kami berdua saling diam. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang disampaikan olehnya.
“Asma, sejatinya cinta itu hanya milik Allah dan untuk Allah, ibadah yang selama ini kamu laksanakan tidak lain agar kamu dianggap baik di hadapannya. Namun apakah tersirat di hatimu bagaimana Allah memandangmu yang sedang rajin beribadah namun bukan untuk Allah akan tetapi agar dipandang indah oleh seorang manusia? Lagi pula, saleh di hadapan manusia belum tentu di hadapan Allah.”
Deg!aku tersentak. Sungguh suatu kenyataan yang tak mungkin bisa kuelakkan, mulutku bungkam walau hanya untuk memberi alasan.
“Bersyukurlah, Asma. Bersyukurlah pada Allah. Sebab Allah sedang menegur dan menagih cintaNya padamu. Mengingatkanmu akan kesejatian cinta.” Ucap Fat meyakinkanku. “Insya Allah, kelak akan ada yang akan meminangmu dan menyuntingmu untuk beribadah pada Allah. Membersamaimu untuk mengabadikan cinta. Cinta karena Allah tentunya.” ujar Fat.
Lekat-lekat ia pandangi wajahku dan mengusap lembut sisa air mata di ujung kelopak mataku. “Jika benar ia jodohmu, kelak Allah akan pertemukanmu dengannya dengan cinta yang sebenarnya bukan cinta benalu.”
Nasihat Fat seperti salju yang mengairi hatiku, memadamkan api amarah yang sempat memercik di hatiku. Seketika kurengkuh Fat dalam dekapanku.
“Terima kasih, Fat...” bisikku lembut di telinganya.
*****
Mataku masih mengerjap. Sedang hatiku masih terbang kemasa lalu. Masa yang telah mempertemukanku dengan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang terjalin antara seorang hamba dan penguasa. Juga yang menguasai hatiku.
“Asma, mengapa jendelanya di buka, sayang? Nanti masuk angin. Besok pagi akad nikahmu dengan Abdillah akan dilaksanakan, istirahat ya.” Ucap ibu seraya menutup jendela beserta kordennya, menutup pintu kamar dan meninggalkan senyuman untukku yang masih mematung.
“Allah …,” mataku kembali mengerjap. Buliran bening itu tak bisa kutahan. Penaku kembali menyusurui lembaran putih di hadapanku.
Angin membawaku terbang bersama napas bidadari, menitah mahkota di tahta jiwa. Lalu bersama kesegaran musim semi, kau membawaku terbang mengantar simpul setia dan kepasrahan kepada kata-kata, menitis raja di antara samudera menjelma permaisuri kefakiran asa. Menjadilah cinta selalu. Terbanglah untuk menyunting mekar cinta.

Nb. Beberapa bagian diambil dari sumber (Majalah Annida)

Malam Kelabu di Taman Surga







Hujroh[1] Salsabila kembali gempar! dalam satu minggu bagian keamanan sudah mencatat empat kasus kehilang dari kamar itu. Ranum selaku Amiroh[2] dianggap tidak mampu mengayomi lima belas santri putri yang diamanahkan kepadanya. Tidak tanggung-tanggung, maling itu justru nekat menjarah lemari sang Amirotul Hujroh.
            “Kakak tidak akan menghukum dan mengadukannya kepada Kyai jika dia mau mengakui kesalahannya!” Ranum menatap lekat-lekat empat belas pasang mata di hadapannya. Ultimatum yang menghambur dari bibirnya membuat semua wajah menunduk tidak sanggup membalas tatapan tajam sang Amiroh.
            Semua mulut bungkam. Samar-samar suara helaan nafas nyaris terdengar.
            “Tadi malam, ana melihat Husnah membuka lemari Kakak,” semua mata mengarah ke asal suara. “Dia mengambil sesuatu, Ana[3] tidak tau persis apa yang diambilnya.” Lian melanjutkan kesaksiannya 
            Seolah mengingat sesuatu, Ranum mencari wajah Husnah di hadapannya.  
            Aina[4] Husnah!” tanya Ranum geram.
            “Husnah sedang keluar pondok, Kak. Hampir dua minggu ini Husnah diberi izin oleh Bu Kiyai mengajar les privat anak Bu Lurah. Bu Lurah sendiri yang meminta langsung kepada Bu Kiyai,” Jawab Raihana sahabat Husnah. Sejauh ini hanya Raihana yang mengetahui pekerjaan sampingan Husnah. “Anak Bu Lurah hanya mau diajari oleh Husnah, sebab libur puasa kemarin Husnah sempat mengajar les privat anak Bu Lurah.” Lanjut Raihana hati-hati.
            “Beberapa hari ini ana sering melihat Husnah memakai pakaian baru dan sepatu baru, mungkin gak ya Husnah malingnya?” kata-kata yang terontar dari mulut Lian mengundang amarah di hati Raihana.
            “Kau punya bukti apa Lian! Jangan asal nuduh. Alfitnatu asyaddu minal qatli[5],” cecar  Raihana tidak terima sahabatnya dituduh tanpa bukti.
            “Kita lihat saja nanti. Aku sering mendapati Husnah pulang dengan kresek gendut menggantung di kedua tangannya. Dan kamu Raihana. Kamu juga ikut menikmatinya. Iya, kan!” Lian berdalih,  telunjuk lentiknya tajam mengarah ke wajah Raihana. Spontan Raihana terkejut mendengar tambahan fitnah Lian, air mukanya merah padam.
            “Isi kresek gendut itu tidak lain hanyalah pakaian bekas dari anaknya Bu lurah. Ingin rasanya kusumpal mulutmu itu dengan bara api, agar lidahmu yang berbisa itu tidak lagi bisa berkata sesuatu!” balas Raihana. “Ingat Lian, satu jari kamu arahkan padaku, empatnya lagi mengarah padamu! Jangan-jangan kamu malingnya dan menjadikan Husnah tumbalmu dengan kondisi yang mendukung.”
            “Cukup! Kalian santri tapi akhlak kalian tidak lebih rendah dari mereka yang yatim ilmu!” bentak Ranum. Sorot mata penuh keibuan hilang berganti dengan kesinisan.
            Air muka Lian berubah, wajahnya pasi sepucat purnama. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri penuh risau.
            Assalamualaikum,” sebuah suara memenuhi sudut ruangan.
            Semua mata tertuju pada sosok di ambang pintu kamar. Ranum memandang dua plastik kresek gendut di jemari Husnah, rasa tidak percaya menanaungi hatinya. Lian tersenyum tipis, cercaannya tepat sasaran.
            “Dasar Maling !” Umpat Lian penuh kepuasan. “Periksa saja lemarinya, ana yakin semua bukti ada di dalamnya!”
            Husnah tidak mampu berdalih saat Imelda mengangkat tinggi dompet yang ia temukan di lemari Husnah. Ranum menganga, kilat di matanya penuh dengan keraguan.
            “Kamar Salsabilah yang biasa di kenal baik sekarang menjadi sarang penyamun! Salah apa aku padamu, Husnah!” tanya Ranum penuh amarah.
            Hadzihi fitnah, Kak. Hadzihi fitnah, lastu syariqah![6]husnah berlutut mengiba di sisi Ranum, bola matanya dipenuhi butiran bening.
            Lau laaki man siwaaki ya Husnah![7]” timpal Lian, bibir tipisnya melengkung seperti samurai, niat untuk mengggeser Husnah sebagai saingannya tidak pernah terpikir olehnya semudah ini. Bahkan dengan kondisi semendukung ini. Sungguh diluar dugaan. Ia mengulum senyum dalam hati.
            Riana menunduk, ada rasa kawatir menyelinap dan merajai hati dan pikirannya.
            “Bukan aku yang melakukannya, kalian percaya padaku, kan?” Bisik Husnah lirih, ia tidak lagi punya kuasa membendung buliran bening yang menganak sungai dari matanya.
            Qismul Amni[8] sigap menjalankan tugasnya. Layaknya tersangka, Husnah langsung  digiring ke lapangan Volly. Satu  meja sudah disiapkan. Husnah terisak saat kakinya menapak di atas meja. Semua mata memandang hina penuh cibiran setiapkali membaca tulisan yang di kalungkan di lehernya  ‘Aku Maling, Aku Tidak Akan  Mengulanginya Lagi’.
                                                                        )i( )i()i(
            Malam kian larut, suara dengkuran halus sesekali terdengar membersamai nyanyian jangkrik di kesunyian. megap-megap Ranum menahan kantuk dan mencoba fokus dengan editan cerpen yang akan ia pajang di mading besok pagi. Ia berniat memandangi wajah-wajah binaannya, mungkin saja ada hal yang lucu dan mengusir jauh rasa kantuknya.
            Ma ... Madza ta’malin fi tilkal khijanah ya, Ukhti? Limadza lam tanamin?”[9] tanyanya gugup saat matanya memandang punggung yang ditutupi oleh geraian rambut hitam panjang.
            Lama keduanya saling diam, Ranum menyingkirkan rasa takutnya dan mendekat kesosok yang mematung.
            “Ana ... A ... na.”
            “Raihana!” pekiknya seketika, saat ia mendekati dan yakin akan siapa pemilik rambut itu. Beberapa santriwati terbangun mendengar suara pekik Ranum.
            Raihana membalik, wajahnya pasi menunduk malu. Ia tak kuasa menatap bola mata Husnah, Dompet ungu milik Lian erat dalam genggamannya, Husnah yang menyaksikan kejadian itu tidak percaya atas apa yang dilihatnya. fitnah keji itu justru dilayangkan oleh sahabatnya sendiri. Malam kelabu mengurai kabut di taman Salsabila.


1.        kamar
        [2].     pemimpin
        [3].     saya
        [4].     dimana
                [5]. “Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan”
                [6]. “ini fitnah, kak. Bukan saya malingnya!”
                [7]. “Kalau bukan kamu, siapa lagi wahai Husnah !”
                [8]. Bagian keamanan
                [9]. “Apa yang sedang kamu perbuat di lemari itu wahai saudariku? Mengapa kamu belum tidur?”